01 Juni 2013



OKEZone - Kota Sawahlunto di Sumatera Barat mungkin belum populer di kalangan wisatawan. Padahal, kota ini tengah bersiap menjadi tuan rumah perhelatan internasional, The International Homestay Promotional Fair 2013 dan ASEAN Workshop on Cultural Heritage Tourism.

Sawahlunto terpilih menjadi tuan rumah perhelatan yang membahas akomodasi homestay karena kota salah satu yang memiliki homestay terbaik di Indonesia. Sawahlunto diharapkan dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia agar dapat memajukan industri homestay-nya.

"Sawahlunto itu dulu bekas tambang, orang tidak mau ke sana. Tapi sekarang jadi bersih dan nyaman," kata Firmansyah Rahim, Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, di Jakarta, Jumat (31/5/2013).

Hal tersebut diamini oleh Walikota Sawahlunto, Ir. Amran Nur, pada kesempatan sama. "Dulu orang bertanya, ngapain ke Sawahlunto? Mau tidur dimana? Tapi sekarang kami punya banyak homestay yang nyaman untuk wisatawan," sahutnya.

Saat ini, Sawahlunto memiliki 53 homestay dengan kapasitas 116 kamar. Semuanya masuk dalam Asosiasi Homestay Sawahlunto yang standarisasi kamar dan pelayanannya dilakukan oleh PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Sumatera Barat dan Dinas Pariwisata Sawahlunto.

Terbukti salah satu keberhasilan pengembangan homestay di Sawahlunto adalah semakin banyaknya wisatawan datang ke kota ini. "Pada 2004 hanya 14 ribu wisatawan datang ke Sawahlunto, sekarang ada 700 ribu," ujar Firmansyah.

Wisatawan yang bermalam di homestay-homestay di Sawahlunto akan merasakan keramahtamahan khas Minangkabau. Bahkan, homestay ini memiliki paket-paket wisata menarik, kadang mengajak wisatawan menari atau ke pasar tradisional.

Tarif homestay di Sawahlunto pun terjangkau, berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp250 ribu. "Kalau yang Rp150 ribu itu non AC, yang Rp250 ribu AC. Semuanya sudah termasuk biaya dua kali makan," pungkas Amran.

DetikTravel - Waktu masa penjajahan Belanda, Kota Sawahlunto di Sumatera Barat dijadikan lokasi penambangan. Tapi setelah menjadi tempat wisata, kunjungan wisatawan pun meningkat. Tahun 2012 lalu, ada 700 ribu turis yang datang ke Sawahlunto.

"Tahun 2004 kunjungan wisatawan ke Sawahlunto hanya kisaran 14.000 orang. Tapi tahun 2012 lalu jumlahnya mencapai 742.000 wisatawan. Peningkatan yang cukup drastis," tutur Walikota Sawahlunto, Ir Amran Nur saat konferensi pers The International Homestay Promotional Fair 2013 di ruang rapat Lt 14 Gedung Sapta Pesona, Kemenparekraf, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (31/5/2013).

Meningkatnya kunjungan wisatawan itu, lanjut Amran, tak lepas dari upaya pembaharuan bekas peninggalan tambang menjadi tempat wisata. Beberapa di antaranya adalah gereja, Gudang Ransum yang sekarang jadi museum, dan stasiun yang sekarang jadi 'rumah' bagi kereta wisata Mak Itam.

"Dulu Sawahlunto benar-benar seperti kota kubangan. Untuk itulah wisata heritage jadi salah satu basic Kota Sawahlunto," tambahnya.

Meski telah 'menyulap' aneka bekas pertambangan menjadi destinasi wisata. Pemerintah Kota Sawahlunto juga membangun beberapa wahana wisata lainnya. Sawahlunto pun punya waterboom!

"Kami punya waterboom, lalu Dreamland yang konsepnya mirip Batu Night Spectacular. Kami juga buat Taman Satwa," tambah Amran.

Tak heran, dengan wajah baru Kota Sawahlunto ini, makin banyak wisatawan yang penasaran ingin berkunjung. Wisatawan bisa mendapatkan pengalaman seru naik kereta Mak Itam atau menelusuri Lubang Mbah Soero yang dulunya bekas tambang batu bara.

"Sawahlunto itu fenomenal lho. Dari yang asalnya 'kubangan nyamuk' menjadi kota wisata yang layak disanding dengan Yogya atau Bali. Kita wajib memperkenalkan kepada wisatawan, apa yang belum banyak metrka ketahui di Sawahlunto," tambah Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatof, Prof Dr Ir Gede Pitana, dalam kesempatan yang sama.

Ciputranews - Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat, akan menjadi tuan rumah pameran homestay internasional 2013 yakni dalam acara yang bertajuk The International Homestay Promotional Fair 2013 pada 10-13 Juni 2013.

"Kami bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk menyelenggarakan event berskala internasional The International Homestay Promotional Fair 2013 di Kota Sawahlunto," kata Wali Kota Sawahlunto Amran Nur di Jakarta, Jumat.

Acara itu digelar untuk mempromosikan Kota Sawahlunto sebagai kota homestay sekaligus mempererat hubungan kerja sama bidang pariwisata, ekonomi, dan sosial antara negara-negara ASEAN yang akan menjadi peserta.

Pada pameran itu akan diperkenalkan obyek wisata dan homestay serta desa wisata di Sawahlunto disertai pelajaran tentang pengelolaan homestay.

"Selama kegiatan, para peserta dari perwakilan negara-negara ASEAN akan menginap di homestay di kota kami," katanya.

Saat ini terdapat sekitar 53 homestay dengan kapasitas 116 kamar yang tersebar di dua kecamatan yaitu Talawi dan Lembah Segar.

Keseluruhan homestay di kota itu telah membentuk Asosiasi Homestay Sawahlunto.

"Untuk melakukan standarisasi kamar maupun pelayanannya, asosiasi bekerja sama dengan PHRI Sumatera Barat dan Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto," katanya.

Menurut rencana, delegasi negara IMT-GT (Indonesia-Malaysia-Thailand), Brunei Darussalam, Filipina, Laos, Myanmar, Kamboja, Singapura, dan Vietnam.

Peserta lain yang akan turut serta dalam acara itu di antaranya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi dan pengelola desa wisata atau homestay yang berada di wilayah Sumatera, pengelola desa wisata di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Bali, serta Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumbar dan BPSNT Sumatera Barat.

Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf Firmansyah Rahim menyatakan mendukung penuh pelaksanaan acara itu sekaligus menjadikan Sawahlunto sebagai kota homestay di Indonesia.

"Ini diharapkan bisa mengembangkan Sawahlunto sebagai kota wisata baru yang semakin diminati," katanya. (bn)

DetikTravel - Pertama kalinya di Indonesia, The International Homestay Promotional Fair 2013 akan digelar di Sawahlunto, Sumatera Barat. Pameran ini akan diikuti oleh negara-negara ASEAN.

"Tahun lalu Malaysia bikin pameran homestay, dan Indonesia jadi satu-satunya negara yang ikut. Tapi tahun ini ketika pameran homestay bertempat di Indonesia. 10 Negara-negara ASEAN akan ikut serta, 6 di antaranya sudah confirmed," tutur Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf, Firmansyah Rahim saat konferensi pers di ruang rapat Lt 14 Gedung Sapta Pesona, Kemenparekraf, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (31/5/2013).

The International Homestay Promotional Fair 2013 adalah ajang memperkenalkan homestay (tinggal di rumah penduduk) sebagai opsi akomodasi bagi turis. Ada beberapa alasan Sawahlunto dipilih menjadi tuan rumah pameran homestay pertama di Indonesia ini.

"Karena mayoritas turis di Sawahlunto memang tinggal di homestay. Cuma ada 2 hotel berbintang di sana, itu pun bintang 3. Digabung dengan hospitality setempat, akan meninggalkan kesan yang baik pada wisatawan," tambah Walikota Sawahlunto, Ir Amran Nur dalam kesempatan yang sama.

Peserta perwakilan dari negara-negara ASEAN akan menempati 116 kamar di 53 homestay yang tersebar di dua kecamatan, yakni Talawi dan Lembah Segar. Para peserta juga akan melakukan acara Sarasehan Desa Wisata di Desa Wisata Rantih.
"Seluruh homestay di Sawahlunto sudah terdaftar dalam Asosiasi Homestay Sawahlunto. Di depan rumah ada stikernya. Mereka juga kerjasama dengan PHRI Sumatera Barat dan Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto untuk melakukan standarisasi kamar maupun pelayanannya," tambah Firmansyah.

The International Homestay Promotional Fair akan digelar mukai 10-13 Juni 2013 di Kota Sawahlunto. Rencananya, pameran internasional ini akan dibuka oleh Menparekraf Mari Elka Pangestu pada tanggal 11 Juni.


OKEZone - Pilihan akomodasi di Indonesia tak hanya resor ataupun hotel. Berbekal keramahtamahan khas Indonesia, homestay pun menjadi akomodasi yang disenangi wisatawan.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerjasama dengan Pemerintah Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, akan menyelenggarakan perhelatan berskala internasional, yaitu The International Homestay Promotional Fair 2013. Bersama dengan itu juga diselenggarakan ASEAN Workshop on Cultural Heritage Tourism.

Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Indonesia, Malaysia, dan Thailand di bidang pariwisata, meliputi promosi dan pemasaran destinasi. "Kita selalu dengar Malaysia mengklaim dirinya memiliki homestay-homestay terbaik di ASEAN, padahal sebenarnya kita lebih bagus karena homestay kita sudah dibina melalui desa wisata," kata Firmansyah Rahim, Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, di Jakarta, Jumat (31/5/2013).
"Ini adalah kali kedua pertemuan ini dilaksanakan dan mengundang semua anggota ASEAN. Acara akan diadakan di Sawahlunto, yang merupakan salah satu kota dengan homestay-homestay terbaik," jelas Firman.

Acara ini akan dikunjungi oleh negara-negara anggota ASEAN, dengan jumlah peserta yang sudah mendaftar saat ini adalah 21 orang dari 6 negara. Mereka akan tinggal di rumah yang dikelola penduduk di Sawahlunto, dan belajar mengenai promosi dan pengembangan homestay.

International Homestay Promotional Fair 2013 akan berlangsung pada 10-13 Juni 2013. Selain perwakilan dari negara-negara anggota ASEAN juga akan hadir dari Dinas Pariwisata Sumatra barat, pengelola desa wisata di beberapa kota di Indonesia, dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumbar dan BPNST Sumbar.

31 Mei 2013

Homestay atau rumah singgah yang mengangkat suasana kekeluargaan, tumbuh subur serta mendukung perkembangan pariwisata di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.
"Minat masyarakat membuka homestay di Sawahlunto cukup tinggi. Di tahun 2009 hanya ada 15 homestay, dan jumlah ini tumbuh cukup signifikan sehingga di tahun 2011 tercatat ada 53 homestay yang siap menampung sekitar 150 wisatawan," kata Ketua Asosiasi Homestay Sawahlunto, Kamsri Benty, di Sawahlunto, Sabtu (16/6).
Ia menyebutkan, kelebihan dari homestay adalah suasana kekeluargaan yang hangat dan pelayanan yang ramah ditambah fasilitas setaraf hotel.
"Hal tersebut menjadi senjata ampuh bagi asosiasi homestay Sawahlunto untuk menjadi penginapan prioritas utama bagi wisatawan yang menginap di kota ini," kata Kamsri Benty yang akrab dipanggil Buk Ben.
Buk Ben menyebutkan, usaha ini cukup menjanjikan, karena jumlah kunjungan wisatawan ke kota itu meningkat dari waktu ke waktu. Terutama pada hari penting semua homestay bisa terisi penuh. Seperti saat Tour de Singkarak, ada 72 tamu yang menginap di homestay yang tersebar dari Muaro Kalaban hingga ke Talawi.
"Di hari biasa selalu ada saja tamu yang memesan, apalagi pada saat pemkot menggelar berbagai acara," katanya.
Untuk mengembagkan dan mempromosikan homestay tersebut, selain lewat dunia maya (internet), Bu Ben mengaku asosiasi yang dipimpinnya menjalin kerja sama dengan asosiasi homestay Trengganu Malaysia dalam melakukan promosi.
Dan untuk menjaga mutu, dia selalu menekankan pada anggotanya agar memberikan pelayanan terbaik sehingga pengunjung merasakan kesan yang baik.
"Dengan cara ini pasti homestay Sawahlunto dikenal luas dari mulut ke mulut," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto, Medi Iswandi, menyebutkan, keberadaan homestay mendukung perkembangan wisata daerah itu, karena saat ini jumlah hotel yang ada belum mencukupi dari jumlah kunjungan wisatawan.
"Salah satu alternatifnya adalah homestay ini," terangnya. (Heri.F/Ant)

29 Mei 2013

Belia Trengganu Kunjungi Sawahlunto

Sawahlunto - Kehadiran belia pelajar ini dijadwalkan akan mengikuti berbagai kegiatan diantaranya mengunjungi beberapa objek wisata di Sawahlunto, mengikuti proses belajar di SMU 1dan SMK 1 Sawahlunto, bersosialisasi dengan masyarakat dan mengikuti permainan anak nagari Sawahlunto.
Rombongan yang dipimpin oleh Hazlan bin Mohammed Harun ini akan diinapkan di beberapa homestay Sawahlunto dari 25 s/d 31 Mei 2013.
Efrianto,S.Sos Mm Asisten Administrasi Pemerintahan yang mewakili Walikota dalam penyambutan rombongan mengatakan kegiatan kerjasama dengan Malaysia ini telah memberi manfaat yang luar biasa khususnya bagi Sawahlunto.
“Dalam memajukan Sawahlunto menjadi kota wisata, seperti halnya kemajuan yang telah dicapai Malaka, kami membutuhkan masukan dan saran dari berbagai pihak. Silahkan kunjungi berbagai objek wisata di kota ini. Tapi nanti jika ada kekurangan, tolong beritahu kepada kami” ujarnya. (erni)