This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

25 Agustus 2014

Homestay Sawahlunto Menjadi Pilihan Peserta Workshop Kota Pusaka dan SimFest 5 2014

Dengan adanya acara Workshop Kota Pusaka (21 s/d 24 Agustus) dan SIMFEST 5 2014 (22 s/d 24 Agustus) menjadi berkah tersendiri bagi Anggota Asosiasi Homestay Sawahlunto. Tamu-tamu yang datang dari berbagai daerah di seluruh indonesia dan juga tamu dari mancanegara peserta SIMFEST 5 ini memilih untuk tinggal di Homestay Sawahlunto.

“Saya suka dengan homestay di sawahlunto. Fasilitas yang ditawarkan tidak kalah dengan hotel” kata salah satu tamu peserta Workshop Kota Pusaka dari Semarang. Hal senada juga di sampaikan oleh Mr. Siggi Neuhause yang telah beberapa kali datang ke Sawahlunto dan selalu memilih Homestay sebagai tempat tinggal nya selama beraktifitas di Kota Sawahlunto ini. Pria berkewarganegaraan German ini adalah pengusaha yang bergerak di bidang travel agent.

“Saya melihat potensi besar untuk target wisatawan ke Kota Sawahlunto ini. Makanya saya sudah lebih dari 4 kali datang ke Sawahlunto dan selalu menginap di Homestay. Saya ingin jual ini homestay ke tamu-tamu saya, sehingga tingkat kunjungan ke Sawahlunto bisa meningkat. Dengan adanya Workshop Kota Pusaka dan juga acara tahunan seperti SIMFEST, Makan Bajamba dan lain lain menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang ingin ke Sawahlunto” ucap bule german ini yang telah fasih berbahasa Indonesia.

“Saya ingin membuat sebuah workshop tentang pengelolaan Homestay. Karena di Sawahlunto, pembinaan homestay nya sudah memiliki wadah yang bagus. Apalagi saya lihat Pemerintah Daerah sangat membantu dalam menggerakkan sektor wisata di sawahlunto yang bisa dibilang sangat unik. Sawahlunto harus tetap konsen menjadi kota tujuan wisata dengan menjaga multietnik dan ciri khas bangunan lama nya yang sangat penuh dengan nilai sejarah” lanjut pria yang menginap di OMA Homestay ini.

Ditempat terpisah, Ketua Asosiasi Homestay Sawahlunto, Hj. Kamsri Benty. M, SE mengatakan bahwa benar adanya peningkatan kunjungan dalam beberapa bulan terakhir.

“Awal tahun kita memang mengalami sedikit penurunan kunjungan. Tapi setelah berbagai event diadakan di Sawahlunto maka tingkat kunjungan kita mulai stabil jika dibanding dengan bulan yang sama di tahun lalu. Event Tour de Singkarak, Tabligh Akbar, Workshop Kota Pusaka dan Simfest 5 ini membuat rumah-rumah anggota asosiasi homestay dipenuhi oleh tamu dari berbagai daerah dan juga dari mancanegara”

“Kami dari Asosiasi Homestay Sawahlunto, selalu berperan aktif membantu dan mendukung program pemerintah daerah dalam mencapai visi misi untuk menjadikan sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya Tahun 2020. Kami telah menjalin kerjasama dengan berbagai Travel Agent agar mendatangkan tamu ke kota ini. Dengan datangnya tamu, maka kota ini akan makin dikenal dan masyarakat juga mendapat tambahan penghasilan dan yang pasti Anggota Homestay juga akan mendapat keluarga baru dan tambahan penghasilan juga” demikian disampaikan oleh ibu 3 anak ini mengakhiri wawancara tentang tingkat kunjungan tamu Homestay. (*Wong)

24 Agustus 2014

Sawahlunto Berpotensi Menjadi Kota Pusaka

Kekayaan sejarah yang dimiliki setiap daerah, merupakan roh utama hadirnya sebuah kota pusaka, Sawah­lunto salah satunya. Untuk menjaga potensi kekayaan sejarah tersebut, dibutuhkan kreati­fitas dan keikhlasan.

Hal itu diungkapkan, Dirjen Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum, Basuki Hadi Mulyo­no, ketika membuka Work­shop Kesiapan Kota Berse­jarah Indonesia Menuju Warisan Dunia Unesco, Jumat (22/8). Basuki mengungkapkan, Indonesia yang pernah didu­duki kolonial Belanda selama 350 tahun, tentu memiliki peninggalan bersejarah, yang tidak dimiliki bangsa lain di dunia. Bukan berarti bangga dijajah, ujar Basuki, namun peninggalan bersejarah yang dimiliki Indonesia sangat berpotensi untuk dijadikan aset dalam pembangunan bangsa ke depan.

“Terkadang, kita bangga dengan luar negeri. Padahal, kekayaan dan potensi yang dimiliki bangsa Indonesia ini jauh lebih baik lagi,” ujar Basuki, dalam kegiatan yang digelar di Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto. Menurut Basuki, setidak­nya saat ini terdapat 200 kota di dunia yang diakui Unesco sebagai kota pusaka. 21 di antara kota tersebut, berada di asia. Namun, tidak satupun dari kota di asia tersebut berada di Indonesia.

Makanya, lanjut Basuki, dalam workshop yang diha­diri 16 nara sumber dari Dirjen Penataan Ruang, Unesco Jakarta, UPK Kota Tua Jakarta, BPPI, JKPI, Ahli Cagar Budaya Nasional, Kepala BPCP, Fisip Unand, Direktur INDB, serta PCBM itu, dibahas upaya menjadi kota pusaka warisan dunia Unesco. Basuki juga mengungkap­kan, harapan untuk menjadi kota pusaka warisan dunia Unesco akan semakin terban­tu, dengan terpilihnya Jokowi sebagai Presiden Indonesia periode 2014 – 2019.
Bagi Basuki, terpilihnya Jokowi sebagai presiden akan memberikan dampak positif bagi kota-kota di Indonesia yang tengah mempersiapkan diri menuju kota warisan dunia Unesco. Sebab, terangnya, Jokowi merupakan salah satu dekla­rator hadirnya Jaringan Kota Pusaka Indonesia, yang menjadi motor utama dari kota-kota yang memper­siapkan diri menuju kota warisan dunia Unesco.

Untuk itu, Basuki meng­harapkan setiap kota agar selalu menjaga roh kota pusaka, yakni gedung, kese­nian dan budaya yang dimi­liki. Sebab, ketiga item tersebut merupakan item utama roh kota pusaka warisan dunia. Tidak berbeda jauh de­ngan Basuki, Ketua Jari­ngan Kota Pusaka Indonesia, Burhan Abdurrahman, mengatakan usaha untuk melestarikan heritage yang dimiliki daerah, kini telah dilindungi dengan hadirnya undang-undangn cagar budaya.

“Saat ini sudah ada 50 kota dan kabupaten yang menjadi anggota JKPI. Kota pusaka tidak hanya sebagai objek, namun juga menjadi subjek atau pelaku pemba­ngunan,” ujar Burhan. Pria yang juga Walikota Ternate tersebut mengatakan, dengan kekayaan yang dimi­liki, kota yang tergabung dalam JKPI bisa meng­gunakan kekayaan tersebut sebagai potensi dalam mendu­kung pergerakan pereko­nomian masyarakat. Sawahlunto sebagai ang­gota JKPI dan bekas daerah tambang, ternyata mampu bangkit dengan memanfaatkan potensi sejarah budaya, kesenian dan alam yang dimiliki, menjadi kota tujuan wisata.

“Sawahlunto mampu berta­han, meskipun tidak lagi menjadi kota tambang batu bara. Sawahlunto mampu bangkit dengan potensi sejarah yang dimiliki, mudah-muda­han ini bisa menjadi motivasi bagi daerah lain,” katanya.

Walikota Sawahlunto, Ali Yusuf dalam kesempatan tersebut, sempat menceritakan asal mula hadir dan jayanya Sawahlunto ketika batu bara ditemukan. Kejayaan tersebut, kembali diukir meskipun Sawahlunto tidak lagi mem­produksi batu bara. “Sawahlunto tumbuh dan besar dengan multi etnis, yang berawal dari ditemu­kannya batu bara di kota ini. Berbagai fasilitas dibangun, mulai dari kereta api, rumah sakit, kantor pemerintahan, yang hingga saat ini jejaknya terlihat,” tambah Ali Yusuf.
Berhasilnya Sawahlunto bangkit tanpa adanya batu bara, terang Ali Yusuf, tidak terlepas dari dukungan seluruh komponen dan lapisan masyarakat. Selain itu, dukungan juga mengalir dari pemerintah pusat dan JKPI sendiri.  Sumber – HALUAN

12 Februari 2014

Dreamland Sawahlunto Akan menjadi Icon Baru Pariwisata

Setelah sempat terlupakan karena tersendat pem­biaya­an, pembangunan objek wisata Dreamland Sawah­lunto yang memanfaatkan areal bekas tambang batu bara Kandih telah mulai melanjutkan pembangunan objek wisata tersebut. Pembangunan kawasan yang diperkirakan akan men­jadi pusat wisata terbesar pertama di Sumatera itu dan di gadang gadangkan sebagai DUNIA FANTASI (DUFAN) Part 2, telah dimulai semenjak awal tahun 2010 silam yang ditan­dai dengan peletakan batu pertama oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, pada 27 Februari 2010.

Kebe­ra­daan Dreamland Sawahlunto akan sangat membantu pengem­bangan pariwisata Sawah­lunto. Sebab, kawasan objek wisata tersebut menjadi kawa­san wisata terbesar untuk ukuran pulau Sumatera. Bahkan warga Sawahlunto berkeyakinan jika Dreamland Sawahlunto ini telah rampung rampung pengerjaannya, objek wisata terse­but akan memberikan kont­ribusi yang sangat besar untuk Sawahlunto. Setidaknya, target kunjungan satu juta wisa­tawan akan terealisasi dengan mudah. Menurut info yang beredar, akan tersedia sekitar 200 jenis permainan di lokasi Dreamland Sawahlunto ini.

Pada saat ini aktifitas pekerjaan terlihat pada Gerbang Utama (Main Gate), Lapangan Parkir dan penghijauan di Parkir serta pembenahan Lokasi tempat wahana permainan. Dalam perencanaannya beberapa wahana permainan yang akan dibuka di Dreamland Sawahlunto beberapa diantaranya adalah: Collumbus, Mini Train, Carrousel, Crazy Buffalo, Ice Cup, Swinger, Trampolin, Mini Jet, Galeon, Battery Car, Battery Bike dan Bumper Car.

Kamipun dari Asosiasi Homestay Sawahlunto turut mendukung pembangunan Dreamland Sawahlunto ini. Sehingga slogan “Sawahlunto, Spirit of West Sumatera” tidak hanya menjadi sekedar slogan saja. Mulai dari Waterboom pertama di sumatera, Cinema 4 Dimensi pertama di Sumatera, Kota Tua bersejarah yang terpelihara, Kota multi etnik yang masih mengembangkan seni dan budayanya, dan jika terealisasi nanti, maka Sawahlunto akan menjadi Kota pertama di Sumatera yang memiliki Kereta Gantung untuk menuju objek wisata nya. Semangat ini benar-benar bergelora di setiap harapan masyarakat Kota Sawahlunto. Pemerintah yang selalu bekerja keras memikirkan kebangkitan Sawahlunto perlu mendapat apresiasi dari banyak pihak. Kota yang sempat mati, kini mulai bangkit dan mencoba berlari mengejar cita-cita yang belum semat terealisasi. Majulah Sawahlunto ku, dan capailah tujuan Menjadi Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya 2020. Kami mendukungmu…!

01 Juni 2013

Sawahlunto si Kota Tambang, Homestay-nya Terbaik di Indonesia



OKEZone - Kota Sawahlunto di Sumatera Barat mungkin belum populer di kalangan wisatawan. Padahal, kota ini tengah bersiap menjadi tuan rumah perhelatan internasional, The International Homestay Promotional Fair 2013 dan ASEAN Workshop on Cultural Heritage Tourism.

Sawahlunto terpilih menjadi tuan rumah perhelatan yang membahas akomodasi homestay karena kota salah satu yang memiliki homestay terbaik di Indonesia. Sawahlunto diharapkan dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia agar dapat memajukan industri homestay-nya.

"Sawahlunto itu dulu bekas tambang, orang tidak mau ke sana. Tapi sekarang jadi bersih dan nyaman," kata Firmansyah Rahim, Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, di Jakarta, Jumat (31/5/2013).

Hal tersebut diamini oleh Walikota Sawahlunto, Ir. Amran Nur, pada kesempatan sama. "Dulu orang bertanya, ngapain ke Sawahlunto? Mau tidur dimana? Tapi sekarang kami punya banyak homestay yang nyaman untuk wisatawan," sahutnya.

Saat ini, Sawahlunto memiliki 53 homestay dengan kapasitas 116 kamar. Semuanya masuk dalam Asosiasi Homestay Sawahlunto yang standarisasi kamar dan pelayanannya dilakukan oleh PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Sumatera Barat dan Dinas Pariwisata Sawahlunto.

Terbukti salah satu keberhasilan pengembangan homestay di Sawahlunto adalah semakin banyaknya wisatawan datang ke kota ini. "Pada 2004 hanya 14 ribu wisatawan datang ke Sawahlunto, sekarang ada 700 ribu," ujar Firmansyah.

Wisatawan yang bermalam di homestay-homestay di Sawahlunto akan merasakan keramahtamahan khas Minangkabau. Bahkan, homestay ini memiliki paket-paket wisata menarik, kadang mengajak wisatawan menari atau ke pasar tradisional.

Tarif homestay di Sawahlunto pun terjangkau, berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp250 ribu. "Kalau yang Rp150 ribu itu non AC, yang Rp250 ribu AC. Semuanya sudah termasuk biaya dua kali makan," pungkas Amran.

Dari Kota Tambang Jadi Kota Wisata, Sawahlunto Banjir Turis

DetikTravel - Waktu masa penjajahan Belanda, Kota Sawahlunto di Sumatera Barat dijadikan lokasi penambangan. Tapi setelah menjadi tempat wisata, kunjungan wisatawan pun meningkat. Tahun 2012 lalu, ada 700 ribu turis yang datang ke Sawahlunto.

"Tahun 2004 kunjungan wisatawan ke Sawahlunto hanya kisaran 14.000 orang. Tapi tahun 2012 lalu jumlahnya mencapai 742.000 wisatawan. Peningkatan yang cukup drastis," tutur Walikota Sawahlunto, Ir Amran Nur saat konferensi pers The International Homestay Promotional Fair 2013 di ruang rapat Lt 14 Gedung Sapta Pesona, Kemenparekraf, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (31/5/2013).

Meningkatnya kunjungan wisatawan itu, lanjut Amran, tak lepas dari upaya pembaharuan bekas peninggalan tambang menjadi tempat wisata. Beberapa di antaranya adalah gereja, Gudang Ransum yang sekarang jadi museum, dan stasiun yang sekarang jadi 'rumah' bagi kereta wisata Mak Itam.

"Dulu Sawahlunto benar-benar seperti kota kubangan. Untuk itulah wisata heritage jadi salah satu basic Kota Sawahlunto," tambahnya.

Meski telah 'menyulap' aneka bekas pertambangan menjadi destinasi wisata. Pemerintah Kota Sawahlunto juga membangun beberapa wahana wisata lainnya. Sawahlunto pun punya waterboom!

"Kami punya waterboom, lalu Dreamland yang konsepnya mirip Batu Night Spectacular. Kami juga buat Taman Satwa," tambah Amran.

Tak heran, dengan wajah baru Kota Sawahlunto ini, makin banyak wisatawan yang penasaran ingin berkunjung. Wisatawan bisa mendapatkan pengalaman seru naik kereta Mak Itam atau menelusuri Lubang Mbah Soero yang dulunya bekas tambang batu bara.

"Sawahlunto itu fenomenal lho. Dari yang asalnya 'kubangan nyamuk' menjadi kota wisata yang layak disanding dengan Yogya atau Bali. Kita wajib memperkenalkan kepada wisatawan, apa yang belum banyak metrka ketahui di Sawahlunto," tambah Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatof, Prof Dr Ir Gede Pitana, dalam kesempatan yang sama.